Pendidikan
adalah cara pengajaran dalam penyampaian sebuah materi ajar kepada seseorang
yang semula tidak mengetahui suatu hal menjadi tahu dan mengajarkan seseorang
agar menjadi lebih baik lagi. Pendidikan ini sangat dibutuhkan oleh semua orang
dan semua kalangan, hampir tak ada waktu sedikitpun tanpa pendidikan.
pendidikan sendiri dimulai dari dalam bayi kandungan hingga lanjut usia bahkan
sampai meninggal. Tujuan pendidikan itu sendidri untuk mengembangkan fungsi
otak, kognitif, afektif dan psikomotor dalam merespon terhadap stimulus dan
mengembangkan pengetahuan terhadap apa yang belum diketahui dan lain-lain.
Menurut Jean Piaget (1896) pendidikan
berarti menghasilkan, menciptakan, sekalipun tidak banyak, seklipun suatu
penciptaan dibatasi oleh pembandingan dengan penciptaan yang lain. Piaget juga
berpendapat, bahwa pendidikan sebagai penghubung dua sisi, disatu sisi individu
yang sedang tumbuh dan disatu sisi lain nilai sosial, intilektual, dan moral
yang menjadi tanggung jawab pendidik untuk mendorong individu tersebut.
Individu berkembang sejak lahir dan terus berkembang, perkembangan ini bersifat
kausal. Namun terdapat komponen normatif, juga karana pendidik menuntut nilai.
Nilai ini adalah norma yang berfungsi sebagai penunjuk dalam mengidentifikasi
apa yang diwajibkan,diperbolehkan, dan dilarang. Jadi, pendidikan adalah
hubungan normatif antara individu dan nilai Sagala (2003 : 1).
Anak
memerlukan bimbangan cara berpikir agar pikiran seoarang anak dapat berkembang
dengan baik. Pengembangan berpikir ini penting karena agar anak mampu terarah
dalam mengembangkan pola pikirnya menjadi lebih baik. Soemanto (1983 : 31)
Beberapa cara membimbing pikiran akan agar pikiran itu berkembang dengan baik
antara lain dengan jalan :
1.
Mengembangkan
kemampuan dan keterampilan berbahasa
pada anak didik.
2.
Pendidikan bukannya
memberikan pengetahuan sebanyak-banyaknya, melainkan yang terpenting yaitu
membimbing pikiran anak didik denga memberikan sejumlah pengertian kunci yang
fungsional bagi keterampilan berpikir anak.
3.
Di samping memberikan
pengertian-pengertian kunci agar anak didik dapat berpikir cepat dan tepat
perlu diberikan kepada anak itu bekal pengetahuan siap.
4.
Menggunakan alat-alat
peraga dalam pengajaran.
Pendidikan yang paling mendasar dan dikenal
pertama kali adalah pendidikan dari orang tua. Dimana ketika bayi dalam
kandungan sudah bisa mengenal oranng tuanya. Ketika masih bayi pendidikan
dimulai dari mengenal hal-hal yang sederhana menuju hal-hal yang komplek. Hal
yang komplek ini biasanya didapat ketika sudah bisa menerima pendidikan yang
bersifat abstrak. Pengembangan anak dapat dilihat dari perubahan yang
ditonjolkan terhadap pengtahuan baru, seperti perubahan sikap, pola berfikir
dan lain-lain. Bagaimana seorang anak tersebut menjadi lebih baik itu
tergantung pada cara mendidik orang tua terhadap anak. Apabila seorang anak
tiba-tiba menjadi liar maka yang perlu diketahui adalah cara mendidik orang
tua. Orang tua sangat berperan penting dalam pendidikan, pengawasan, penjagaan
dan sebagainya yang mempengaruhi terhadap karakteritik anak. Pendidikan ini
dapat didapat dimana saja, meliputi :
1.
Orang
tua
Orang
tua merupakan orang yang pertama mengenalkan pendidikan kepada anaknya dan memberi
pendidikan. pendidikan yang di ajarkan, meliputi :
a) Nilai-nilai,
ini ditanaman sejak dini agar anak mampu mengetahui bagaimana nilai-nilai dalam
kehidupan.
b) Moralitas,
ditanamkan sejak dini agar anak dapat mengetahui serta mengaplikasikan moral dalam kehidupannya si anak sehingga
anak memiliki moral yang baik.
c) Spiritual,
orang tua mengenalkan agama terhadap anak tersebut. Anak diajarkan bertanggung
jawab atas pilihan agama untuk melaksanakan dan mengamalkan nilai-nilai yang
ada pada agama tersebut.
d) Karakter,
orang tua wajib mengarahkan anak kedapa hal-hal yang baik agar karakter anak
bisa terbentuk. Karena ketika anak sering melihat hal-hal yang jelek, sebuah
pertengkaran orang tua maka tidak menutup kemungkinan anak tidak memilki
karakter yang baik.
2.
Lingkungan
keluarga
Semua
anggota keluarga ikut berperan dalam mendidik anak. Lingkungan keluarga ini
meliputi anggota keluarga, contohnya :
a) nenek
kakek
b) kakak
dari anak tersebut jika ada
c) paman
dan bibi
d) keponakan,
dan sebagainya lingkup keluarga yang berhubungan dekat dengan anak tersebut
Anggota
tersebut berkaitan penting dalam perkembangan anak ketika anak belum mengenyam
pendidikan di sekolah. Anak akan sering melihat dan mengamati keluarganya yang
berada disekitar. Dari proses pengamatan (afektif) lalu dilakukan (psikomotor).
Sehingga pada tahap anak meniru atau mengembangkan kemampuannya anggota keluaga
ini harus mengajarkan dan memberi contoh yang baik kepada anak.
3.
Sekolah
Kewajiban
lembaga sekolah adalah mengembangkan anak melalui peran seorang guru. Guru yang mengarahkan bagaimana
masa depan anak tersebut. Guru hanya menyampaikan materi yang sudah
distandarkan pemerintah dalam kurikulum, namun meskipun hanya menyampaikan
materi tanggung jawab guru sangatlah besar, karena paham tidaknya semua murid
tergangung dengan cara guru menyampaikan materi tersebut. Guru harus bisa jadi
contoh bagi murid-muridnya. Dari sekolah anak akan mendapatkan pengetahuan yang
luas.
Pada
realita masih banyak anak yang mengalami kesulitan belajar. Untuk itu
dibutuhkanperhatian khusus sebagi penunjang keberhasilan anak dalam belajar.
Menurut Rusyan (1993) menawarkan petunjuk umum cara dan teknik mengatasi
kesulitan belajar yakni :
a)
Menetapkan target dan
tujuan belajar yang jelas
b)
Menghindari saran dan
kritik yang negatif
c)
Menciptakan situasi
belajar yang sehat dan kompetitif
d) Menyelenggarakan
remidial program
e)
Memberi kesempatan agar
peserta didik memperoleh pengalaman yang sukses Sagala (2003 : 58)
4.
Lingkungan
Sekolah
Lingkungan
sekolah dapat mendidik anak untuk berinteraksi dengan teman sebayanya, kakak
kelas, guru, penjaga kantin dan sebagainya. Sehingga anak akan cenderung dapat
menempatkan dirinya terhadap lingkungannya.
5.
Masyarakat
Memberikan
pendidikan tentang bagaimana beriteraksi dalam lingkungan, nilai-nilai, norma
yang berlaku di masyarakat.
6.
Lingkungan
masyarakat
Anak
berkembang biasanya dapat dipengaruhi juga dengan lingkungan. Apabila
lingkungan masayarakatnya baik maka anak tersebut akan mendapatkan pendidikan
yang baik juga, sedangkan jika lingkungan masyarakatnya jelek maka anak juga
terbawa dengan pendidikan yang jelek juga. Dari lingkungan masyarakat seorang
anak akan dapat dipengaruhi proses pembentukan karakternya.
Dari
pendidikan yang didapat seorang anak tersebut, juga tak menutup kemungkinan
terjadi hambatan yang menghambat anak untuk mendapat pendidikan yang lebih
baik. Hambatan ini bisa berupa :
1.
Hambatan
Internal
Hamabatan ini berasal
dari diri sendiri. Semangat akan perubahan dalam mengembangkan pengetahuannya.
Apabila seorang anak tidak mau merubahnya lebih baik lagi maka tidak ada
keinginan untuk mendapatkan pendidikan. sehingga anak akan tidak dapat
berkembang secara kognitif, afektif, dan psikomotor.
2.
Hambatan
Eksternal
Hambatan ini terjadi
diluar kendali anak, meliputi :
a) Orang
tua, kurang memotivasi anak untuk mendapatkan pendidikan.
b) Lingkungan
keluarga, adanya konflik keluarga yang menimbulkan anak mendapatkan pendidikan
yang kurang baik.
c) Sekolah,
fasilitas sekolah yang diberikan kurang memadai sehingga tidak menunjang
pendidikan yang baik. Fasilitas ini berupa kualitas guru, sarana dan prasarana,
dan sebagainya.
d) Lingkungan
sekolah, kurang terjalinnya hubungan yang baik sehingga memicu anak cenderung
pendiam, penakut dan dan kurang bersikap sosial.
e) Masyarakat,
tidak adanya penerapan nilai dan norma yang berlaku untuk menjadi masyarakat
yang baik.
f) Lingkungan
masyarakat, adanya masyarakat yang buruk sehingga mempengaruhi pembentukan
karakternya.
DAFTAR
PUSTAKA
Segala Syaiful. 2003. “Konsep dan
Makna Pembelajaran”. Alfabeta: Bandung
Soemanto Wasty. 1983. “Psikologi
Pendidikan”. Rineka: Malang