Selasa, 03 Desember 2013

PENDIDIKAN DI ERA GLOBALISASI

Diskripsi pendidikan di era globalisasi
            Pandangan pendidikan di era globalisasi ini sendiri bersifat mendunia artinya sudah modrn mengikuti perkembangan zaman, banyak perkembangan-perkembangan dari perubahan yang terjadi pada pendidikan begitu pesat di banding dengan pendidikan dimasa dahulu.
Pendidikan adalah suatu pembelajaran yang ditempuh untuk menjadikan seseorang menjadi lebih baik dilihat dari perubahannya, dari pendidikan itu sendiri mengajarkan bagaimana karakter, aturan, pada negaranya sehingga akan menghasilkan warga negara yang baik. Tujuan pendidikan adalah menghasilkan penerus bangsa yang akan membawa bagaimana bentuk negara selanjutnya dari generasi ke generasi yang akan datang. Pendidikan ini terdiri dari lembaga sekolah yang didirikan pemerintah untuk proses pembelajaran, pengajar yang menyalurkan pembelajaran sesuai denga kurikulum yang ditetapkan pemerintah, staf-staf  yang menunjang terlaksananya suatu lembaga pendidikan (salah satunya staf tata usaha bagian administrasi sekolah), peserta didik yang diberi pembelajaran, dan lain sebagainya.
Menurut (UUSPN No.2 tahun 2003) pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewuudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya, masyarakat, bangsa dan negara Sagala (2003 : 3).
Menurut John Dewey pendidikan merupakan proses pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik menyangkut daya pikir atau daya intelektual, maupun daya emosional atau perasaan yang diarahkan kepada tabiat manusia dan kepada sesamanya.
Globalisasi adalah mendunia. Globalisasi ini menonjolkan suatu perubahan-perubahan yang modern misalnya, perkembangan teknologi yang dapat mempengaruhi kemajuan suatu bangsa. Globalisasi itu sendiri adalah perubahan yang terjadi di dunia secara serentak semuanya akan mengikuti.
Dr. Nayef R.F. Al-Rodhan. Globalisasi adalah proses yang meliputi penyebab, kasus, dan konsekuensi dari integrasi transnasional dan transkultural kegiatan manusia dan non-manusia.[1]

           Malcom Waters. Globalisasi adalah sebuah proses sosial yang berakibat bahwa pembatasan geografis pada keadaan sosial budaya menjadi kurang penting, yang terjelma didalam kesadaran orang.

           Anthony Giddens. globalisasi sebagai ‘intensifikasi hubungan sosial seluruh dunia yang menghubungkan daerah yang jauh dalam sedemikian rupa sehingga kejadian lokal dibentuk oleh peristiwa yang terjadi bermil-mil jauhnya dan sebaliknya’.

Pendidikan globalisasi merupakan suatu pembelajaran yang dilakukan secara meluas sesuai dengan perkembangan bersifat mendunia. Hampir semua negara mengikuti perkembangan zaman untuk menjadikan negaranya lebih maju. Pendidikan globalisasi ini banyak perubahan yang ditonjolkan, misalnya :
1.          Kurikulum, yang menyamakan sesuai perkembangan di dunia dan menyesuaikan kebutuhan masyarakat di era globalisasi.
2.         Sistem pengajaran, cara pengajar menyampaikan pembelajaran mengacu pada kurikulum dan perkembangan di are globalisasi.
3.         Dan sebagainya.

Pengaruh-pengaruh pendidikan di era globalisasi ada 2 yaitu, menguntungkan dan merugikan :
1.        Pengaruh yang menguntungkan :
a)  Masyarakat lebih modern, masyarakat juga terus mengikuti perkembangan zaman.
b)  Pendidikan mencetak seorang tenaga yang canggih, dengan adanya tuntutan teknologi yang terus berkembang pesat jadi pendidikan juga semakin berkembang untuk menghasilkan seorang tenaga yang canggih.
c)    Informasi tentang pedidikan/materi pendidikan mudah untuk diakses menggunakan teknologi, sehingga memudahkan masyarakat dalam mencari tahu persoalan dunia.
d)  Negara jadi lebih maju, apabila masyarakat tidak ketinggalan perkembangan teknologi menjadikan negara semakin maju dalam memajukan negaranya.
2.       Pengaruh yang merugikan :
a)  Masyarakat sangat terpengaruh dengan perkembangan sehingga menciptakan masyarakat yang malas, karena mudah untuk menjangkau suatu hal sehingga membuat masyarakat yang malas.
b)  Masyarakat menjadi lebih tidak memiliki karakter, akibat mudahnya memasang informasi baik informasi negatif maupun positif yang sangat berpengaruh terhadap karakter. Namun itu tergantung pada pemanfaatan teknologi itu sendiri dari masing-masing individu.
c)    Lemahnya penanaman nilai-nilai pada suatu bangsa, dengan adanya perkembangan zaman mempengaruhi kelunturan nilai-nila pada suatu bangsa sehingga penanaman nilai-nilai melemah pada suatu bangsa.
d)  Banyak penyalagunaan terhadap teknologi, adanya teknologi masyarakat terkadang salah dalam menggunakan teknologi. Seharusnya teknologi itu digunakan dengan baik/hal-hal yang baik, tetapi pada kenyataannya masyarakat menggunakan teknologi pada hal-hal yang jelek.

Pandangan pendidikan yang ada di Indonesia terhadap teknologi
Masyarakat Indonesia berlombah-lombah untuk terus mengikuti perkembangan teknologi di Indonesia agar tidak menjadi masyarakat yang gaptek terhadap perkembangan zaman.
Perkembangan teknologi ini juga mempengaruhi perubahan kurikulum pendidikan di Indonesia. Tidak hanya perubahan kurikulum, cara penyampaian materi pun juga di sesuaikan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat akan perkembangan zaman. Tuntutan tersebut memcu semua masyarakat untuk lebih mengenal dan belajar secara mendalam terhadap teknologi serta penyesuaian terhadap perkembangan zaman.
Pada kenyataannya adanya teknologi membuat kelunturan karakter bangsa, misalnya peristiwa yang terjadi :
a)  Banyaknya penipuan lewat jejaring internet, seperti jual-beli, penculikan, pencurian, dan sebagainya.
b)  Anak di bawah umur melakukan sex diluar nikah akibat mudahnya mengakses film purno diinternet, penyalagunaan anak pada hal yang negatif.
c)    Kurangnya minat terhadap budaya yang ada di Indonesia, sehingga budaya-budaya di Indonesia mulai luntur.
d)  Pengaruh-pengaruh pada tayangan di televisi negatif, sehingga mengakibatkan anak meniru hal-hal yang negatif.
e)   Banyaknya tawuran pelajar
f)    Adanya game online yang tidak mendidik, yang berpengaruh pada karakter anak.

Pendidikan yang diharapkan
Pendidikan diharapkan mengembangkan kogninif maupun sosial anak dengan didasari moral anak, agar anak tidak hanya mampu mengembangkan perkembngan kognitif maupun sosialnya juga mempunyai moralitas yang baik sebagai penunjang perkembangan kognitif maupun soaialnya. Setiono (2009 : 71), menurut Kohlberg (1976) terdapat perbedaan dari asumsi-asumsinya pada perkembangan kognitif maupun sosial.


Asumsi
Teori Perkembangan Kognitif
Teori Perkembangan Sosialisasi
1
Perkembangan moral
Perubahan struktur kognisi
Pertumbuhan kesesuaian terhadap norma-norma soaial
2
Motivasi dasar untuk moralitas
Lebih merupakan upaya untuk penerimaan, kemampuan, harga diri, realisasi diri, dari pada pemenuhan kebutuhan biologis atau pengurangan ketakutan/ “anxiety
Berakar pada kebutuhan biologis atau untuk mendapatkan hadiah dan menghindari hukuman dari lingkungan sosial
3
Dasar norma moral
Lebih merupakan penstukturan (dalam diri seseorang) dan interaksi antara diri dan orang lain, dari pada internalisasi aturan-aturan kultural (dari luar)
Internalisasi dari aturan-aturan kultural dari luar
4
Aspek utama dari perkembangan moral
Universal, sebab semua kultur mempunyai sumber yang umum dari interaksi sosial. “role taking” dan konflik sosial yang memerlukan integrasi moral
Tergantung kultur
5
Pengaruh lingkungan terhadap perkembangan moral
Seberapa jauh stimulus kignitif dan sosial sesuai dengan tahap perkembangan seseorang
Kekuatan dan variasi hadiah, hukuman dan “modelling” mengenai tingkah laku yang sesuai, dari orang tua dan orang dewasa lain

Untuk lebih menunjang adanya perkembangan kognitif maupun sosialnya perlu adanya penanaman kedisipinan. Menurut PoerwadaDisiplin diri merupakan latihan batin dan watak dengan maksud supaya segala perhatiannya selalu menaati tata tertib di sekolah atau militer atau dalam suatu kepartaian (Pedagogia Jurnal Pendidikan, UMSIDA 2013 : 37)
Tujuan penanaman disiplin diterapakan sejak lahir karena sangat berpengaruh dalam pembentukan perilaku sedemikian rupa shingga ia akan sesuai dengan peraperan yang diterapkan kelompok budaya, tempat individu itu diidentifikasikan(Pedagogia Jurnal Pendidikan, UMSIDA 2013 : 38).
Dengan penanaman nilai disiplin tersebut sejak lahir seorang anak akan terbiasa, sehinga leih mudah dalam mendidik anak tersebut. Anak juga akan dapat menerapkan dalam kehidupannya sehari-hari apa yang sudah diterima dari pendidikan yang diberikan orang lai termasuk orang tua, guru an lingkungan.
Soemanto (1983 : 3) berdasarkan studi psikologi belajar yang baru serta sosiologi pendidikan, maka masyarakat pendidikan mengkehendaki agar pengajaran memperhatiakn minat, kebutuhan dan kesiapan anak didik untuk belajar. Serta dimaksudkan untuk mencapai tujuan-tujuan sosial sekolah. Dalam hubu8ngan ini ada baiknya bila dikemukakan gagasan John Dewey mengenai “pendidikan progresif”. Ini tidak bermaksud agar sekolah-sekolah kita dirubah total untuk menjadi sekolah progresif ala John Dewey, tetapi sebagian besar konsepsi pendidikan semacam itu adalah bertentangan dengan pendidikan yang berasaskan demokrasi Pancasila.

DAFTAR PUSTAKA
Jurnal Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. 2013. ”Pedagogia”. Pusat Pengembangan Ilmu Pendidikan FKIP UMSIDA: Sidoarjo
Segala Syaiful. 2003. “Konsep dan Makna Pembelajaran”. Alfabeta: Bandung
Setiono Kusdwiratri. 2009. ”Psikologi Perkembangan”. Widya Padjadjaran: Bandung
Soemanto Wasty. 1983. “Psikologi Pendidikan”. Rineka: Malang
www.carakata.blogspot.com. Definisi Globalisasi. Diakses 17 November 2013, 19:50.




[1] www.carakata.blogspot.com. Definisi Globalisasi. Diakses 17 November 2013, 19:50.

MENUMBUHKAN DISIPLIN MENUNJANG TERCIPTANYA INTEGRITAS PENDIDIKAN PADA SUATU BANGSA

PENGERTIAN DISIPLIN
Displin berasal dari kata yang sama dengan “disciple” yang artinya seorang yang belajar dari atau secara sukarela mengikuti seorang pemimpin. Menurut para ahli, antara lain :
1.      Poerwadarminto dalam Kamus Bahasa Indonesia, disiplin adalah latihan batin dan watak dengan maksud supaya segala perhatiannya selalu mentaati tata tertib di sekolah atau militer atau dalam suatu kepartaian.
2.    Charles Schaefer, disiplin adalah sesuatu yang mencakup pengajaran, bimbingan atau dorongan yang dilakukan oleh orang dewasa yang bertujuan untuk menolong anak belajar untuk hidup sebagai makhluk sosial dan untuk mencapai pertumbuhan serta perkembangan mereka yang optimal.(Pedagogia Jurnal Pendidikan, UMSIDA 2013 : 37)

TUJUAN MENANAMKAN KEDISIPLINAN sebagai PENUNJANG MUTU PENDIDIKAN
   Dengan mengembangkan nilai kedisiplinan akan mempengaruhi pembentukan suatu karakter atau watak seseorang sehingga sangat dibutuhkan penanaman sikap disiplin dalam pendidikan agar terselenggara dengan baik. Apabila suatu warga negara tercipta sikap disiplin maka negara tersebut akan menjadi negara yang maju, karena pembiasaan kedisiplinan pada setiap warga negara yang menjadikan SDM berkualitas.

TEORI-TEORI DISIPLIN
Teori-teori disiplin yang dikemukakan oleh para ahli :
1.    Teori disiplin mental
Plato aristoteles menganggap bahwa dalam belajar mental siswa didisiplinkan atau dilatih. Dalam mengajar siswa membaca misalnya, guru pebgikut teori ini melatih, “otot-otot” mental siswa. (Segala, 2003: 39)
2.    Menurut Harlock, agar disiplin mamapu mendidik anak untuk dapat berperilaku sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh kelompok maka disiplin harus memiliki empat unsur pokok yaitu :
a.         Peraturan
Pola yang ditetapkan untuk tingkah laku, dimana pola tersebut ditetapkan oleh orang tua, guru atau teman bermain. Peraturan berfungsi sebagai :
1)      Peraturan mempunyai nilai pendidikan, peraturan memperkenalkan pada anak perilaku yang disetujui anggota kelompok.
2)      Peraturan membantu mengekang perilaku yang tidak diinginkan.
b.        Hukuman
Hukuman berarti menjatuhkan hukuman pada seseorang karena suatu kesalahan, perlawanan atau pelanggaran sebagai ganjaran atau pembalasan. Walaupun tidak dikatakan, namun tersirat bahwa kesalahan, perlawanan atau pelanggaran ini disengaja, dalam arti bahwa orang itu mengetahui bahwa perbuatan iu salah tetapi tetap melakukannya. Hukuman berfungsi sebagai :
1)  Menghalangi, hukuman dapat menghalangi pengulangan tindakan yang tidak diinginkan oleh masyarakat.
2)        Mendidik, sebelum anak akan diperkenalkan dengan peraturan. Anak akan mempelajari mana yang benar dan salah untuk dilakukan, hal tersebut akan dipelajari melalui hukuman.
3)        Motivasi, pengalamannya mengenai akibat-akibat tindakan yang salah dan mendapat hukuman akan diperlukan sebagai motivasi untuk menghindari kesalahan tersebut.
c.         Penghargaan
Bentuk penghargaan untuk suatu hasil yang baik. Penghargaan ini tidak perlu berbentuk materi, tetapi dapat berupa kata-kata pujian, senyuman atau tepukan dipunggung. Penghargaan berfungsi sebagai :
1)        Penghargaan mempunyai nilai mendidik.
2)        Penghargaan sebagai motivasi untuk mengulangi perilaku yang disetujui secara sosial.
d.        Konsisten
Konsisten berarti tingkat keseragaman atau stabilitas. Konsisten berfungsi sebagai :
1)        Mempunyai nilai mendidik.
2)        Mempunyai nilai motivasi yang kuat.
3)  Mempertinggi penghargaan terhadap peraturan dan orang yang berkuasa. (Pedagogia Jurnal Pendidikan, UMSIDA 2013 : 38-40)

TIPE-TIPE DISIPLIN
Menurut Hurlock (1999:93) ada beberapa tipe-tipe disiplin yaitu :
1)   Disiplin Otoriter
Disiplin otoriter merupakan disiplin yang menggunakan peraturan dan pengaturan yang keras untuk memeksakan perilaku yang diinginkan. Disiplin otoriter selalu berarti mengendalikan melalui kekuatan eksernal dalam bentuk hukuman, terutama hukuman badan.
2)   Disiplin Permisif
Disiplin permisif berarti sedikit disiplinatau tidak berdisiplin. Disiplin permisif biasanya tidak membimbing anak ke pola perilaku yang disetujui secara sosial dan tidak menggunakan hukuman, anak dibiarkan meraba-raba dalam situasi yang terlalu sulit untuk ditanggulangi oleh mereka sendiri tanpa bimbingan atau pengendalian.
3)   Disiplin Demokratis
`Disiplin demokratis menggunakan penjelasan, diskusi dan penalaran untuk membantu anak mengerti mengapa perilaku tertentu diharapkan. Metode ini lebih menekankan aspek edukatif dari disiplin dari pada aspek hukumannya. Disiplin demokratis menggunakan hukuman dan penghargaan, dengan menekankan yang lebih besar pada penghargaan. Hukuman tidak pernah keras dan biasanya tidak berbentuk hukuman badan. Hukuman hanya digunakan bila terdapat bukti bahwa anak secara sadar menolak melakukan apa yang diharapkan dari mereka. Bila perilaku anak mememnuhi standar yang diharapkan, orang tua yang demokratis akan menghargainya dengan pujian atau pernyataan persetujuan yang lain.

PENTINGNYA KEDISIPLINAN pada INTEGRITAS PENDIDIKAN
  Dalam meningkatkan mutu pendidikan membutuhkan penanaman kedisiplinan. Dengan disiplin maka anak akan dapat tertib mengikuti peraturan-peraturan yang ada pada sekolah sehingga mempermudah untuk menyelenggarakan atau memberikan pendidikan kepada anak, misalnya:
1.        Guru tidak perlu susah payah dalam menertibkan siswa, apabila kedisiplinan tertanam pada siswa
2.   Anak tidak hanya disiplin pada lingkungan sekolah saja melainkan dimana saja, karena tertanam kedisiplinan.
3.   Anak tidak akan melanggar suatu peratuaran yang ada, hanya saja kemungkinan kecil untuk melanggarnya karena anak sudah terbiasa untuk disiplin.
4.        Anak akan memikirkan terlebih dahulu sebelum bertindak dalam mengerjakan sesuatu, karena terdapat konsekuensi/hukuman tersendiri. Sehingga apabila mau melakukan yang tidak sesuai dengan kelompok masyarakat mereka akan mengurungkan niatnya. Anak disiplin cenderung manaati peraturan-peraturan yang ada.
5.        Dengan disiplin dapat mengendalikan setiap apa yang dilakukan.
6.        Apabila suatu negara dalam mmengembangkan pendidikannya itu menanamkan kedisiplinan maka akan tercipta masyarakat yang baik bekerja keras demi menjadikan negaranya lebih maju dari negara lainnya.
           




DAFTAR PUSTAKA

Jurnal Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. 2013. ”Pedagogia”. Pusat Pengembangan Ilmu Pendidikan FKIP UMSIDA: Sidoarjo

Segala Syaiful. 2003. “Konsep dan Makna Pembelajaran”. Alfabeta: Bandung

Minggu, 10 November 2013

PENDIDIKAN YANG DIPEROLEH SEORANG ANAK




Pendidikan adalah cara pengajaran dalam penyampaian sebuah materi ajar kepada seseorang yang semula tidak mengetahui suatu hal menjadi tahu dan mengajarkan seseorang agar menjadi lebih baik lagi. Pendidikan ini sangat dibutuhkan oleh semua orang dan semua kalangan, hampir tak ada waktu sedikitpun tanpa pendidikan. pendidikan sendiri dimulai dari dalam bayi kandungan hingga lanjut usia bahkan sampai meninggal. Tujuan pendidikan itu sendidri untuk mengembangkan fungsi otak, kognitif, afektif dan psikomotor dalam merespon terhadap stimulus dan mengembangkan pengetahuan terhadap apa yang belum diketahui dan lain-lain.

Menurut Jean Piaget (1896) pendidikan berarti menghasilkan, menciptakan, sekalipun tidak banyak, seklipun suatu penciptaan dibatasi oleh pembandingan dengan penciptaan yang lain. Piaget juga berpendapat, bahwa pendidikan sebagai penghubung dua sisi, disatu sisi individu yang sedang tumbuh dan disatu sisi lain nilai sosial, intilektual, dan moral yang menjadi tanggung jawab pendidik untuk mendorong individu tersebut. Individu berkembang sejak lahir dan terus berkembang, perkembangan ini bersifat kausal. Namun terdapat komponen normatif, juga karana pendidik menuntut nilai. Nilai ini adalah norma yang berfungsi sebagai penunjuk dalam mengidentifikasi apa yang diwajibkan,diperbolehkan, dan dilarang. Jadi, pendidikan adalah hubungan normatif antara individu dan nilai Sagala (2003 : 1).

Anak memerlukan bimbangan cara berpikir agar pikiran seoarang anak dapat berkembang dengan baik. Pengembangan berpikir ini penting karena agar anak mampu terarah dalam mengembangkan pola pikirnya menjadi lebih baik. Soemanto (1983 : 31) Beberapa cara membimbing pikiran akan agar pikiran itu berkembang dengan baik antara lain dengan jalan :
1.        Mengembangkan kemampuan  dan keterampilan berbahasa pada anak didik.
2.        Pendidikan bukannya memberikan pengetahuan sebanyak-banyaknya, melainkan yang terpenting yaitu membimbing pikiran anak didik denga memberikan sejumlah pengertian kunci yang fungsional bagi keterampilan berpikir anak.
3.        Di samping memberikan pengertian-pengertian kunci agar anak didik dapat berpikir cepat dan tepat perlu diberikan kepada anak itu bekal pengetahuan siap.
4.        Menggunakan alat-alat peraga dalam pengajaran.

Pendidikan yang paling mendasar dan dikenal pertama kali adalah pendidikan dari orang tua. Dimana ketika bayi dalam kandungan sudah bisa mengenal oranng tuanya. Ketika masih bayi pendidikan dimulai dari mengenal hal-hal yang sederhana menuju hal-hal yang komplek. Hal yang komplek ini biasanya didapat ketika sudah bisa menerima pendidikan yang bersifat abstrak. Pengembangan anak dapat dilihat dari perubahan yang ditonjolkan terhadap pengtahuan baru, seperti perubahan sikap, pola berfikir dan lain-lain. Bagaimana seorang anak tersebut menjadi lebih baik itu tergantung pada cara mendidik orang tua terhadap anak. Apabila seorang anak tiba-tiba menjadi liar maka yang perlu diketahui adalah cara mendidik orang tua. Orang tua sangat berperan penting dalam pendidikan, pengawasan, penjagaan dan sebagainya yang mempengaruhi terhadap karakteritik anak. Pendidikan ini dapat didapat dimana saja, meliputi :
1.        Orang tua
Orang tua merupakan orang yang pertama mengenalkan pendidikan kepada anaknya dan memberi pendidikan. pendidikan yang di ajarkan, meliputi :
a)    Nilai-nilai, ini ditanaman sejak dini agar anak mampu mengetahui bagaimana nilai-nilai dalam kehidupan.
b)   Moralitas, ditanamkan sejak dini agar anak dapat mengetahui serta mengaplikasikan  moral dalam kehidupannya si anak sehingga anak memiliki moral yang baik.
c)    Spiritual, orang tua mengenalkan agama terhadap anak tersebut. Anak diajarkan bertanggung jawab atas pilihan agama untuk melaksanakan dan mengamalkan nilai-nilai yang ada pada agama tersebut.
d)   Karakter, orang tua wajib mengarahkan anak kedapa hal-hal yang baik agar karakter anak bisa terbentuk. Karena ketika anak sering melihat hal-hal yang jelek, sebuah pertengkaran orang tua maka tidak menutup kemungkinan anak tidak memilki karakter yang baik.
2.        Lingkungan keluarga
Semua anggota keluarga ikut berperan dalam mendidik anak. Lingkungan keluarga ini meliputi anggota keluarga, contohnya :
a)    nenek kakek
b)   kakak dari anak tersebut jika ada
c)    paman dan bibi
d)   keponakan, dan sebagainya lingkup keluarga yang berhubungan dekat dengan anak tersebut
Anggota tersebut berkaitan penting dalam perkembangan anak ketika anak belum mengenyam pendidikan di sekolah. Anak akan sering melihat dan mengamati keluarganya yang berada disekitar. Dari proses pengamatan (afektif) lalu dilakukan (psikomotor). Sehingga pada tahap anak meniru atau mengembangkan kemampuannya anggota keluaga ini harus mengajarkan dan memberi contoh yang baik kepada anak.
3.    Sekolah
Kewajiban lembaga sekolah adalah mengembangkan anak melalui peran  seorang guru. Guru yang mengarahkan bagaimana masa depan anak tersebut. Guru hanya menyampaikan materi yang sudah distandarkan pemerintah dalam kurikulum, namun meskipun hanya menyampaikan materi tanggung jawab guru sangatlah besar, karena paham tidaknya semua murid tergangung dengan cara guru menyampaikan materi tersebut. Guru harus bisa jadi contoh bagi murid-muridnya. Dari sekolah anak akan mendapatkan pengetahuan yang luas.
Pada realita masih banyak anak yang mengalami kesulitan belajar. Untuk itu dibutuhkanperhatian khusus sebagi penunjang keberhasilan anak dalam belajar. Menurut Rusyan (1993) menawarkan petunjuk umum cara dan teknik mengatasi kesulitan belajar yakni :
a)        Menetapkan target dan tujuan belajar yang jelas
b)        Menghindari saran dan kritik yang negatif
c)        Menciptakan situasi belajar yang sehat dan kompetitif
d)       Menyelenggarakan remidial program
e)        Memberi kesempatan agar peserta didik memperoleh pengalaman yang sukses Sagala (2003 : 58)
4.    Lingkungan Sekolah
Lingkungan sekolah dapat mendidik anak untuk berinteraksi dengan teman sebayanya, kakak kelas, guru, penjaga kantin dan sebagainya. Sehingga anak akan cenderung dapat menempatkan dirinya terhadap lingkungannya.
5.    Masyarakat
Memberikan pendidikan tentang bagaimana beriteraksi dalam lingkungan, nilai-nilai, norma yang berlaku di masyarakat.
6.    Lingkungan masyarakat
Anak berkembang biasanya dapat dipengaruhi juga dengan lingkungan. Apabila lingkungan masayarakatnya baik maka anak tersebut akan mendapatkan pendidikan yang baik juga, sedangkan jika lingkungan masyarakatnya jelek maka anak juga terbawa dengan pendidikan yang jelek juga. Dari lingkungan masyarakat seorang anak akan dapat dipengaruhi proses pembentukan karakternya.

Dari pendidikan yang didapat seorang anak tersebut, juga tak menutup kemungkinan terjadi hambatan yang menghambat anak untuk mendapat pendidikan yang lebih baik. Hambatan ini bisa berupa :
1.        Hambatan Internal
Hamabatan ini berasal dari diri sendiri. Semangat akan perubahan dalam mengembangkan pengetahuannya. Apabila seorang anak tidak mau merubahnya lebih baik lagi maka tidak ada keinginan untuk mendapatkan pendidikan. sehingga anak akan tidak dapat berkembang secara kognitif, afektif, dan psikomotor.
2.        Hambatan Eksternal
Hambatan ini terjadi diluar kendali anak, meliputi :
a)    Orang tua, kurang memotivasi anak untuk mendapatkan pendidikan.
b)   Lingkungan keluarga, adanya konflik keluarga yang menimbulkan anak mendapatkan pendidikan yang kurang baik.
c)    Sekolah, fasilitas sekolah yang diberikan kurang memadai sehingga tidak menunjang pendidikan yang baik. Fasilitas ini berupa kualitas guru, sarana dan prasarana, dan sebagainya.
d)   Lingkungan sekolah, kurang terjalinnya hubungan yang baik sehingga memicu anak cenderung pendiam, penakut dan dan kurang bersikap sosial.
e)    Masyarakat, tidak adanya penerapan nilai dan norma yang berlaku untuk menjadi masyarakat yang baik.
f)    Lingkungan masyarakat, adanya masyarakat yang buruk sehingga mempengaruhi pembentukan karakternya.

DAFTAR PUSTAKA
Segala Syaiful. 2003. “Konsep dan Makna Pembelajaran”. Alfabeta: Bandung
Soemanto Wasty. 1983. “Psikologi Pendidikan”. Rineka: Malang