Selasa, 03 Desember 2013

MENUMBUHKAN DISIPLIN MENUNJANG TERCIPTANYA INTEGRITAS PENDIDIKAN PADA SUATU BANGSA

PENGERTIAN DISIPLIN
Displin berasal dari kata yang sama dengan “disciple” yang artinya seorang yang belajar dari atau secara sukarela mengikuti seorang pemimpin. Menurut para ahli, antara lain :
1.      Poerwadarminto dalam Kamus Bahasa Indonesia, disiplin adalah latihan batin dan watak dengan maksud supaya segala perhatiannya selalu mentaati tata tertib di sekolah atau militer atau dalam suatu kepartaian.
2.    Charles Schaefer, disiplin adalah sesuatu yang mencakup pengajaran, bimbingan atau dorongan yang dilakukan oleh orang dewasa yang bertujuan untuk menolong anak belajar untuk hidup sebagai makhluk sosial dan untuk mencapai pertumbuhan serta perkembangan mereka yang optimal.(Pedagogia Jurnal Pendidikan, UMSIDA 2013 : 37)

TUJUAN MENANAMKAN KEDISIPLINAN sebagai PENUNJANG MUTU PENDIDIKAN
   Dengan mengembangkan nilai kedisiplinan akan mempengaruhi pembentukan suatu karakter atau watak seseorang sehingga sangat dibutuhkan penanaman sikap disiplin dalam pendidikan agar terselenggara dengan baik. Apabila suatu warga negara tercipta sikap disiplin maka negara tersebut akan menjadi negara yang maju, karena pembiasaan kedisiplinan pada setiap warga negara yang menjadikan SDM berkualitas.

TEORI-TEORI DISIPLIN
Teori-teori disiplin yang dikemukakan oleh para ahli :
1.    Teori disiplin mental
Plato aristoteles menganggap bahwa dalam belajar mental siswa didisiplinkan atau dilatih. Dalam mengajar siswa membaca misalnya, guru pebgikut teori ini melatih, “otot-otot” mental siswa. (Segala, 2003: 39)
2.    Menurut Harlock, agar disiplin mamapu mendidik anak untuk dapat berperilaku sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh kelompok maka disiplin harus memiliki empat unsur pokok yaitu :
a.         Peraturan
Pola yang ditetapkan untuk tingkah laku, dimana pola tersebut ditetapkan oleh orang tua, guru atau teman bermain. Peraturan berfungsi sebagai :
1)      Peraturan mempunyai nilai pendidikan, peraturan memperkenalkan pada anak perilaku yang disetujui anggota kelompok.
2)      Peraturan membantu mengekang perilaku yang tidak diinginkan.
b.        Hukuman
Hukuman berarti menjatuhkan hukuman pada seseorang karena suatu kesalahan, perlawanan atau pelanggaran sebagai ganjaran atau pembalasan. Walaupun tidak dikatakan, namun tersirat bahwa kesalahan, perlawanan atau pelanggaran ini disengaja, dalam arti bahwa orang itu mengetahui bahwa perbuatan iu salah tetapi tetap melakukannya. Hukuman berfungsi sebagai :
1)  Menghalangi, hukuman dapat menghalangi pengulangan tindakan yang tidak diinginkan oleh masyarakat.
2)        Mendidik, sebelum anak akan diperkenalkan dengan peraturan. Anak akan mempelajari mana yang benar dan salah untuk dilakukan, hal tersebut akan dipelajari melalui hukuman.
3)        Motivasi, pengalamannya mengenai akibat-akibat tindakan yang salah dan mendapat hukuman akan diperlukan sebagai motivasi untuk menghindari kesalahan tersebut.
c.         Penghargaan
Bentuk penghargaan untuk suatu hasil yang baik. Penghargaan ini tidak perlu berbentuk materi, tetapi dapat berupa kata-kata pujian, senyuman atau tepukan dipunggung. Penghargaan berfungsi sebagai :
1)        Penghargaan mempunyai nilai mendidik.
2)        Penghargaan sebagai motivasi untuk mengulangi perilaku yang disetujui secara sosial.
d.        Konsisten
Konsisten berarti tingkat keseragaman atau stabilitas. Konsisten berfungsi sebagai :
1)        Mempunyai nilai mendidik.
2)        Mempunyai nilai motivasi yang kuat.
3)  Mempertinggi penghargaan terhadap peraturan dan orang yang berkuasa. (Pedagogia Jurnal Pendidikan, UMSIDA 2013 : 38-40)

TIPE-TIPE DISIPLIN
Menurut Hurlock (1999:93) ada beberapa tipe-tipe disiplin yaitu :
1)   Disiplin Otoriter
Disiplin otoriter merupakan disiplin yang menggunakan peraturan dan pengaturan yang keras untuk memeksakan perilaku yang diinginkan. Disiplin otoriter selalu berarti mengendalikan melalui kekuatan eksernal dalam bentuk hukuman, terutama hukuman badan.
2)   Disiplin Permisif
Disiplin permisif berarti sedikit disiplinatau tidak berdisiplin. Disiplin permisif biasanya tidak membimbing anak ke pola perilaku yang disetujui secara sosial dan tidak menggunakan hukuman, anak dibiarkan meraba-raba dalam situasi yang terlalu sulit untuk ditanggulangi oleh mereka sendiri tanpa bimbingan atau pengendalian.
3)   Disiplin Demokratis
`Disiplin demokratis menggunakan penjelasan, diskusi dan penalaran untuk membantu anak mengerti mengapa perilaku tertentu diharapkan. Metode ini lebih menekankan aspek edukatif dari disiplin dari pada aspek hukumannya. Disiplin demokratis menggunakan hukuman dan penghargaan, dengan menekankan yang lebih besar pada penghargaan. Hukuman tidak pernah keras dan biasanya tidak berbentuk hukuman badan. Hukuman hanya digunakan bila terdapat bukti bahwa anak secara sadar menolak melakukan apa yang diharapkan dari mereka. Bila perilaku anak mememnuhi standar yang diharapkan, orang tua yang demokratis akan menghargainya dengan pujian atau pernyataan persetujuan yang lain.

PENTINGNYA KEDISIPLINAN pada INTEGRITAS PENDIDIKAN
  Dalam meningkatkan mutu pendidikan membutuhkan penanaman kedisiplinan. Dengan disiplin maka anak akan dapat tertib mengikuti peraturan-peraturan yang ada pada sekolah sehingga mempermudah untuk menyelenggarakan atau memberikan pendidikan kepada anak, misalnya:
1.        Guru tidak perlu susah payah dalam menertibkan siswa, apabila kedisiplinan tertanam pada siswa
2.   Anak tidak hanya disiplin pada lingkungan sekolah saja melainkan dimana saja, karena tertanam kedisiplinan.
3.   Anak tidak akan melanggar suatu peratuaran yang ada, hanya saja kemungkinan kecil untuk melanggarnya karena anak sudah terbiasa untuk disiplin.
4.        Anak akan memikirkan terlebih dahulu sebelum bertindak dalam mengerjakan sesuatu, karena terdapat konsekuensi/hukuman tersendiri. Sehingga apabila mau melakukan yang tidak sesuai dengan kelompok masyarakat mereka akan mengurungkan niatnya. Anak disiplin cenderung manaati peraturan-peraturan yang ada.
5.        Dengan disiplin dapat mengendalikan setiap apa yang dilakukan.
6.        Apabila suatu negara dalam mmengembangkan pendidikannya itu menanamkan kedisiplinan maka akan tercipta masyarakat yang baik bekerja keras demi menjadikan negaranya lebih maju dari negara lainnya.
           




DAFTAR PUSTAKA

Jurnal Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. 2013. ”Pedagogia”. Pusat Pengembangan Ilmu Pendidikan FKIP UMSIDA: Sidoarjo

Segala Syaiful. 2003. “Konsep dan Makna Pembelajaran”. Alfabeta: Bandung

1 komentar: