PENGERTIAN DISIPLIN
Displin berasal dari kata
yang sama dengan “disciple” yang artinya seorang yang belajar dari atau secara
sukarela mengikuti seorang pemimpin. Menurut para ahli, antara lain :
1. Poerwadarminto
dalam Kamus Bahasa Indonesia, disiplin adalah latihan batin dan watak dengan
maksud supaya segala perhatiannya selalu mentaati tata tertib di sekolah atau
militer atau dalam suatu kepartaian.
2. Charles
Schaefer, disiplin adalah sesuatu yang mencakup pengajaran, bimbingan atau
dorongan yang dilakukan oleh orang dewasa yang bertujuan untuk menolong anak
belajar untuk hidup sebagai makhluk sosial dan untuk mencapai pertumbuhan serta
perkembangan mereka yang optimal.(Pedagogia Jurnal Pendidikan, UMSIDA 2013 :
37)
TUJUAN MENANAMKAN KEDISIPLINAN sebagai PENUNJANG MUTU
PENDIDIKAN
Dengan
mengembangkan nilai kedisiplinan akan mempengaruhi pembentukan suatu karakter
atau watak seseorang sehingga sangat dibutuhkan penanaman sikap disiplin dalam
pendidikan agar terselenggara dengan baik. Apabila suatu warga negara tercipta
sikap disiplin maka negara tersebut akan menjadi negara yang maju, karena
pembiasaan kedisiplinan pada setiap warga negara yang menjadikan SDM berkualitas.
TEORI-TEORI DISIPLIN
Teori-teori disiplin
yang dikemukakan oleh para ahli :
1. Teori
disiplin mental
Plato aristoteles menganggap
bahwa dalam belajar mental siswa didisiplinkan atau dilatih. Dalam mengajar
siswa membaca misalnya, guru pebgikut teori ini melatih, “otot-otot” mental
siswa. (Segala, 2003: 39)
2. Menurut
Harlock, agar disiplin mamapu mendidik anak untuk dapat berperilaku sesuai
dengan standar yang ditetapkan oleh kelompok maka disiplin harus memiliki empat
unsur pokok yaitu :
a.
Peraturan
Pola
yang ditetapkan untuk tingkah laku, dimana pola tersebut ditetapkan oleh orang
tua, guru atau teman bermain. Peraturan berfungsi sebagai :
1) Peraturan
mempunyai nilai pendidikan, peraturan memperkenalkan pada anak perilaku yang
disetujui anggota kelompok.
2) Peraturan
membantu mengekang perilaku yang tidak diinginkan.
b.
Hukuman
Hukuman
berarti menjatuhkan hukuman pada seseorang karena suatu kesalahan, perlawanan
atau pelanggaran sebagai ganjaran atau pembalasan. Walaupun tidak dikatakan,
namun tersirat bahwa kesalahan, perlawanan atau pelanggaran ini disengaja,
dalam arti bahwa orang itu mengetahui bahwa perbuatan iu salah tetapi tetap melakukannya.
Hukuman berfungsi sebagai :
1) Menghalangi, hukuman
dapat menghalangi pengulangan tindakan yang tidak diinginkan oleh masyarakat.
2)
Mendidik, sebelum anak
akan diperkenalkan dengan peraturan. Anak akan mempelajari mana yang benar dan
salah untuk dilakukan, hal tersebut akan dipelajari melalui hukuman.
3)
Motivasi, pengalamannya
mengenai akibat-akibat tindakan yang salah dan mendapat hukuman akan diperlukan
sebagai motivasi untuk menghindari kesalahan tersebut.
c.
Penghargaan
Bentuk
penghargaan untuk suatu hasil yang baik. Penghargaan ini tidak perlu berbentuk
materi, tetapi dapat berupa kata-kata pujian, senyuman atau tepukan dipunggung.
Penghargaan berfungsi sebagai :
1)
Penghargaan mempunyai
nilai mendidik.
2)
Penghargaan sebagai
motivasi untuk mengulangi perilaku yang disetujui secara sosial.
d.
Konsisten
Konsisten
berarti tingkat keseragaman atau stabilitas. Konsisten berfungsi sebagai :
1)
Mempunyai nilai
mendidik.
2)
Mempunyai nilai
motivasi yang kuat.
3) Mempertinggi
penghargaan terhadap peraturan dan orang yang berkuasa. (Pedagogia Jurnal Pendidikan,
UMSIDA 2013 : 38-40)
TIPE-TIPE DISIPLIN
Menurut Hurlock
(1999:93) ada beberapa tipe-tipe disiplin yaitu :
1) Disiplin
Otoriter
Disiplin otoriter merupakan
disiplin yang menggunakan peraturan dan pengaturan yang keras untuk memeksakan
perilaku yang diinginkan. Disiplin otoriter selalu berarti mengendalikan
melalui kekuatan eksernal dalam bentuk hukuman, terutama hukuman badan.
2) Disiplin
Permisif
Disiplin
permisif berarti sedikit disiplinatau tidak berdisiplin. Disiplin permisif
biasanya tidak membimbing anak ke pola perilaku yang disetujui secara sosial
dan tidak menggunakan hukuman, anak dibiarkan meraba-raba dalam situasi yang
terlalu sulit untuk ditanggulangi oleh mereka sendiri tanpa bimbingan atau
pengendalian.
3) Disiplin
Demokratis
`Disiplin
demokratis menggunakan penjelasan, diskusi dan penalaran untuk membantu anak
mengerti mengapa perilaku tertentu diharapkan. Metode ini lebih menekankan
aspek edukatif dari disiplin dari pada aspek hukumannya. Disiplin demokratis
menggunakan hukuman dan penghargaan, dengan menekankan yang lebih besar pada
penghargaan. Hukuman tidak pernah keras dan biasanya tidak berbentuk hukuman
badan. Hukuman hanya digunakan bila terdapat bukti bahwa anak secara sadar
menolak melakukan apa yang diharapkan dari mereka. Bila perilaku anak mememnuhi
standar yang diharapkan, orang tua yang demokratis akan menghargainya dengan
pujian atau pernyataan persetujuan yang lain.
PENTINGNYA KEDISIPLINAN pada INTEGRITAS PENDIDIKAN
Dalam
meningkatkan mutu pendidikan membutuhkan penanaman kedisiplinan. Dengan
disiplin maka anak akan dapat tertib mengikuti peraturan-peraturan yang ada
pada sekolah sehingga mempermudah untuk menyelenggarakan atau memberikan
pendidikan kepada anak, misalnya:
1.
Guru tidak perlu susah
payah dalam menertibkan siswa, apabila kedisiplinan tertanam pada siswa
2. Anak tidak hanya
disiplin pada lingkungan sekolah saja melainkan dimana saja, karena tertanam
kedisiplinan.
3. Anak tidak akan
melanggar suatu peratuaran yang ada, hanya saja kemungkinan kecil untuk
melanggarnya karena anak sudah terbiasa untuk disiplin.
4.
Anak akan memikirkan
terlebih dahulu sebelum bertindak dalam mengerjakan sesuatu, karena terdapat
konsekuensi/hukuman tersendiri. Sehingga apabila mau melakukan yang tidak sesuai
dengan kelompok masyarakat mereka akan mengurungkan niatnya. Anak disiplin
cenderung manaati peraturan-peraturan yang ada.
5.
Dengan disiplin
dapat mengendalikan setiap apa yang dilakukan.
6.
Apabila suatu negara
dalam mmengembangkan pendidikannya itu menanamkan kedisiplinan maka akan tercipta
masyarakat yang baik bekerja keras demi menjadikan negaranya lebih maju dari negara
lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Jurnal
Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. 2013. ”Pedagogia”. Pusat
Pengembangan Ilmu Pendidikan FKIP UMSIDA: Sidoarjo
Segala Syaiful. 2003. “Konsep dan
Makna Pembelajaran”. Alfabeta: Bandung
semoga bermanfaat bagi sermua kalangan
BalasHapus