1.
HAKIKAT
ANAK
Anak adalah anugerah yang menyejukkan
mata dan ini adalah nikmat dari Allah SWT. Setiap orang tua pasti menginginkan
anak yang sholeh, sholehah taat pada Allah swt dan orang tua. Dibalik keceriaan
sang anak, sesungguhnya dia membutuhkan perhatian dan bimbingan orang tua.
Begitu pula orang tua, segala yang terbaik ingin diberikan sebagai tanda cinta
bagi sang buah hati, karena si buah hati bagai tak ternilai harganya.
2.
HAKIKAT
BELAJAR
Belajar menurut pndangan para ahli, antara lain :
a.
Robert
M. Gagne
Belajar
adalah suatu proses yang kompleks, sejalan dengan itu menurut Robert M. Gagne
(1970) belajar merupakan kegiatan yang kompleks, dan hasil belajar berupa
kapabilitas, timbulnya kapabilitas disebabkan:
1) Stimulasi
yang berasal dari lingkungan
2) Proses
kognitif yang dilakukan oleh pelajar
Setelah belajar orang memiliki
keterampilan, pengetahuan, sikap, dan nilai. Dengan demikian dapat ditegaskan,
belajar seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi lingkungn,
melewati pengelolahan informasi, dan menjadi kepabilitas baru. Belajar terjadi
bila ada hasilnya yang dapat diperlihatkan, anak-anak demikian juga orang
dewasa dapat mengingat kembali kata-kata yang telah ernah didengar atau
dipelajarinya. (Sagala, 2003: 17)
b.
Piaget
Jean
Piaget seorang psikolog Swiss (1896-1980) mempelajari berpikir pada anak-anak,
sebab ia yakin dengan cara ini akna dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan
epistemologi, seperti “bagaimanakah kita memperoleh pengetahuan: dan “bagaimana
kita tahu apa yang kita ketahui”. Jean Piaget berpendapat ada dua proses yang
terjadi dalam perkembangan dan pertumbuhan kognitif anak, yaitu:
1) Process
assimilation, dalam proses ini menyesuaikan atau mencocokkan informasi yang
baru itu dengan apa yang telah ia ketahui dengan mengubahnya bila perlu
2) Process
accomodation, anak menyusun dan membangun kembali atau mengubah apa yang telah
diketahui sebelumnya sehingga informasi yang baru itu dapat disesuaikan dengan
lebih baik (Sagala, 2003: 24)
3.
HAKIKAT
MENULIS
Menulis
merupakan suatu pemikiran yang di dituangkan lewat bentuk tulisan. Menulis
sangatlah penting untuk pengembangan pemekiran seseorang. Melalui menulis
seseorang dapat menciptakan karya-karya dalam bentuk tulisan.
Ada 2 hal penting yang harus
diperhatikan orangtua, sebagaimana dipaparkan Lara Fridani, S.Psi, M.Psych
(Edu&Dev), dosen Pendidikan Guru PAUD, Universitas Negeri Jakarta.
1.
LIHAT KESIAPAN ANAK
Untuk mengetahui si prasekolah sudah siap atau belum diajarkan menulis, orangtua perlu memerhatikan 3 hal berikut ini:
Untuk mengetahui si prasekolah sudah siap atau belum diajarkan menulis, orangtua perlu memerhatikan 3 hal berikut ini:
a) Aspek Fisik-Motorik
Keterampilan menulis termasuk dalam
keterampilan motorik halus yang melibatkan otot kecil khususnya tangan dan
jari-jari. Di usia prasekolah, anak dapat mengontrol gerakan jari-jemarinya
dengan lebih baik, sehingga mereka bisa lebih terampil dalam menggunakan
material/peralatan untuk menggenggam dan memanipulasi alat.
Umumnya, di usia 3 tahun 6 bulan,
motorik halus anak siap untuk dilatih memegang alat tulis (pensil atau bolpen),
sehingga diharapkan pada usia 6-7 tahun ke atas, kemampuan tersebut—memegang
alat tulis dengan benar— dapat dikuasai anak.
Untuk itu, sebelum anak mencapai
usia prasekolah atau sebelum dilatih menulis, orangtua harus melatih
keterampilan motorik halus anak dengan berbagai kegiatan seperti membentuk
plastisin (lilin lunak), bermain pasir, bermain pasel, memakai sepatu, dan lain-lain
b) Aspek Emosi
Kegiatan menulis membutuhkan
kesabaran, ketekunan dan konsentrasi. Anak usia prasekolah memiliki rentang
waktu konsentrasi dan atensi yang masih terbatas. Mengajak anak melakukan
kegiatan menulis, katakanlah selama 5 menit, perlu usaha yang cukup besar.
Kesabaran dan support orangtua mendampingi anak dalam menulis akan berpengaruh
besar terhadap emosi dan konsentrasi anak pula. Orangtua diharapkan tidak
banyak mengkritik produk tulisan anak, melainkan memberikan reward. Anak akan semakin terampil dalam
menulis.
c) Aspek Kognitif
Keterampilan motorik halus,
sebagaimana keterampilan aspek yang lain, sangat terkait dengan kemampuan
kognitif anak. Menurut teori Piaget, perkembangan kognitif anak usia prasekolah
berada pada tahap pra-operasional, dimana dalam tahap ini sebenarnya kemampuan
berpikir anak masih di bawah tahap konkret. Jadi, dalam mengajari anak, minimal
kita memberikan banyak contoh yang konkret, bermakna, dan familiar bagi anak.
Di tahap ini anak mulai memahami bahwa benda-benda yang biasa dilihatnya, dapat
diwakili oleh tulisan.
2.
TAHAPAN KEMAMPUAN MENULIS
Selain mengetahui kesiapan anak untuk belajar menulis, orangtua juga perlu memerhatikan tahapan perkembangan kemampuan menulis pada anak. Dengan begitu, orangtua dapat memberikan stimulus yang tepat, sesuai dengan kemampuan anak. Cara menstimulasinya adalah dengan menggunakan variasi metode dan media yang menarik agar anak senang berlatih menulis. Ada 6 tahapan kemampuan anak sebagai "penulis muda" yaitu;
Selain mengetahui kesiapan anak untuk belajar menulis, orangtua juga perlu memerhatikan tahapan perkembangan kemampuan menulis pada anak. Dengan begitu, orangtua dapat memberikan stimulus yang tepat, sesuai dengan kemampuan anak. Cara menstimulasinya adalah dengan menggunakan variasi metode dan media yang menarik agar anak senang berlatih menulis. Ada 6 tahapan kemampuan anak sebagai "penulis muda" yaitu;
a) Inexperienced Writer
Tahapan menggunakan gambar, tulisan
scribble (coretan/ sketsa) ataupun bentuk lain seperti huruf, dan sebagainya.
Contoh, tulisan anak yang bentuknya baru mirip huruf.
b) Prewiter
Tahapan mencontoh huruf, kata
ataupun kalimat pendek. Anak juga mulai menggunakan huruf-huruf yang dikenalnya
dalam menamakan suatu benda, dan menulis kata-kata yang pernah dipelajari
(pernah terekam dalam memori). Contoh, tulisan satu kata.
c) Developing Writer
Anak paham bahwa kata-kata yang
mereka ucapkan dapat dituliskan pula; mengerti bahwa kata-kata biasanya
mewakili bunyi-bunyi tertentu. Juga mulai muncul huruf-huruf lain yang
menunjukkan pemahamannya tentang hubungan bunyi maupun simbol, dan mulai
menulis kata demi kata namun spasi antara kata biasanya belum muncul. Di tahap
ini, anak dapat membaca tulisannya sendiri. Contoh, tulisan dua tiga kata tanpa
spasi.
d) Beginning Writer
Anak dapat menulis kata demi kata,
menulis dengan bimbingan orang dewasa, mulai menggunakan spasi untuk memisahkan
satu kata dengan kata lain, serta mulai menunjukkan pemahaman tulisan di buku,
majalah dan lainnya. Contoh, tulisan 3 kata dengan spasi.
e) Experienced Writer
Di tahap ini, tumbuh kepercayaan
diri anak. Dia mulai bisa menulis mandiri, menggunakan rancangan/pola/gambaran
dari lingkungan sekitarnya sehingga menjadi kata yang bermakna, memahami
penggunaan spasi, dapat menuliskan ide sederhana tapi cukup komplet, dan bisa
mengeja kata-kata yang cukup sulit.
f) Exceptional Writer
Anak menunjukkan antusiasme yang
tinggi. Dia lebih senang untuk menulis mandiri, menulis kalimat yang panjang,
sudah terlatih menggunakan spasi antarkata, dan lain-lain. Contoh, tulisan anak
SD awal, dimana tekanan tulisan sudah cukup mantap, dan bisa membuat kalimat.
Umumnya, kemampuan menulis anak TK (prasekolah) yang mendapat stimulasi baik,
berada pada tahapan 3-4. Ketika anak usia TK sudah mencapai kemampuan seperti
experience (tahap 5) ataupun exceptional writer (tahap 6), ini adalah bonus.
Sebagai pendidik, orangtua tidak bisa mengharapkan semua anak usia prasekolah
mencapai keterampilan seperti ini. Dengan stimulasi yang baik dan
berkesinambungan, diharapkan pada usia SD, anak semakin terampil dan antusias
dalam menulis mandiri. [1]
4.
HAKIKAT
INTEGRITAS
Integritas disini berarti menunaikan
amanah dan tanggung jawab kita hingga tuntas selesai. Dengan menunaikannya
berarti kita telah bersikap jujur pada hati kita sendiri, dimana misi yang
telah kita terima dan akui di hadapan para konstituen kita kemudian kita
tunaikan dengan segenap hati, segenap pikiran, segenap tenaga kita. Keutuhan
semua ini, yakni pengakuan mulut, perasaan, pikiran, dan tenaga kita, pada
hakikatnya itulah yang disebut integritas. Integritas adalah komitmen, janji
yang ditepati, untuk menunaikan tanggung jawab hingga selesai sampai tuntas,
tidak pura-pura lupa pada tugas atau ingkar pada tanggung jawab. Dalam proses
penerapannya, untuk membangun integritas diperlukan pengetahuan akan dan
komitmen kuat pada nilai-nilai etika. Keduanya tidak terpisahkan sebagai
prasyarat utama bagi kemampuan kita mengemban amanah. Hal ini didukung oleh
adanya kompetensi teknis (keandalan/reliability) dan kompetensi etis (trustworthiness)
yang dimiliki oleh pribadi.[2]
5.
HAKIKAT
KREATIFITAS
Walaupun ada pengakuan ilmiah
terhadap pentingnya kreativitas, namun hingga kini hanya sedikit sekali
penelitian yang telah dilakukan. Hal itu disebabkan adanya kesulitan metodologi
dan karena adanya keyakinan bahwa kreativitas adalah suatu faktor bawaan
individual sehingga hanya sedikit yang dapat dilakukan untuk mengendalikannya.
Utami Munandar (1995 : 25) kreativitas adalah
suatu kemampuan umum untuk menciptakan suatu yang baru, sebagai kemampuan untuk
memberikan gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah,
atau sebagai kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan baru antara unsur-unsur
yang sudah ada sebelumnya.
6.
HUBUNGAN
ANAK DENGAN BELAJAR MENULIS
Ketiak
anak itu bisa menulis. Anak akan dapat membuat sebuah karya tulis yang menarik
buat seseorang yang membacanya. Anak akan terbiasa untuk menuliskan beberapa
hal yang dianggapnya menarik atau penting untuk dituangkan. Menulis merupakan
salah satu kebutuhab perkembangan seorang anak
Hubungan anak dengan
belajar menulis, yaitu :
a) Melatih
anak sejak dini untuk kreatif dalam menulis
b) Mengajarkan
anak untuk mengukkapkan perasaannya
c) Menjadi
sahabat dimana tempat anak untuk curhat dengan begitu orang tua dapat mengecek
keseharian anaknya
d) Mendidik
anak untuk berpikir secara kritis
7.
PENGARUH
BELAJAR MENULIS TERHADAP INTEGRITAS KREATIFITAS ANAK BANGSA
White (1987) menjelaskan pentingnya
keterampilan menulis dalam kehidupan para pembelajar, yaitu untuk (1)
kepentingan masa depabn (pekerjaan), (2) kepentingan ujian yang menuntut
penjelasan/paparan secara tertulis, (3) kepentingan pembelajar dalam mengikuti
dan memperhatikan pelajaran, (4) kebutuhan penulisan karya tulis sebagai salah
satu teknik ujian akhir.
Hal yang sama diungkapkan oleh
Akhadiah, dkk (1989) bahwa beberapa keuntungan yang dapat dipetik dari
pelaksanaan kegiatan menulis, yaitu (1) dapat mengenali kemampuan dan potensi
kita, (2) dapat mengembangka berbagai gagasan, (3) dapat menyerap, mencari,
serta menguasai informasi sehubungan dengan topik tulisan, (4) dapat
mengorganisasikan ide-ide secara sistematik serta mengungkapkannya secara
tersurat, (5) dapat meninjau serta menilai gagasan sendiri secara objektif, (6)
lebih mudah memecahkan masalah, (7) mendorong lebih belajar secara aktif, dan
(8) membiasakan berpikir serta berbahasa secara tertib.
8.
ARAHAN
ANAK AGAR BELAJAR MENULIS
Hal yang penting diperhatikan dalam
memberikan pengajaran kepada anak tentang menulis. Dalam rangka pembelajaran
tersebut perlu adanya cara-cara agar anak belajar menulis dengan menarik :
a) Gunakan alat tulis yang tepat
Awalnya, berikan pensil dengan
bentuk dan ukuran yang lebih mudah dipegang dan dimanipulasi oleh anak,
misalnya bentuk seperti segitiga (tidak bulat) dengan "garis tengah" agak
besar dan tidak licin.
b) Tidak memaksa anak
Lakukan dengan cara-cara yang
menyenangkan dan nyaman buat anak. Pemaksaan hanya membuat anak tertekan dan
merasa jenuh. Sebetulnya, bila usia anak memang sudah siap dan secara motorik
halus sudah matang, dengan stimulasi yang wajar saja, keterampilan menulisnya dapat
berkembang.
c) Tidak memberi target
Misal, hari ini si kecil harus bisa
menulis huruf hidup, atau dalam sehari anak harus bisa menulis satu kata, dan
lainnya. Biarkan anak menulis apa yang ingin ditulisnya, orangtua hanya
membimbing agar anak dapat menulis dengan baik.
d) Catat setiap perkembangan dan
kemajuan anak
Dokumentasikan setiap tulisan yang
dibuat anak. Untuk itu, cantumkan tanggal, bulan, dan tahun anak menulis di
kertas atau bukunya. Sehingga orangtua bisa melihat ada-tidaknya perubahan yang
lebih baik, untuk kemudian orangtua mengajarkan tulisan lainnya. Di usia akhir
TK B, diharapkan anak dapat menulis huruf dan angka meskipun tulisannya belum
bagus tapi dapat dibaca.
e) Berlatih dengan buku latihan menulis
Di pasaran banyak dijual buku
latihan menulis untuk anak TK. Orangtua boleh saja membelikannya untuk melatih
anak menulis. Yang perlu diperhatikan, jangan menuntut anak untuk melakukannya
dengan sempurna. Umpama, anak harus menulis huruf "a" dengan
mengikuti titik-titik berbentuk huruf "a", tapi hasilnya agak
melenceng. Hal ini wajar saja mengingat keterampilan motorik halusnya yang
belum sempurna.
f) Lihat usaha anak bukan hasilnya
Orangtua/guru hendaknya melihat
proses di balik hasil tulisan anak. Anak yang tulisannya sudah bagus maupun
yang belum, tetap harus diberikan penghargaan yang sama. Bukankah anak yang
tulisannya “jelek” pun sudah berusaha untuk bisa menghasilkan
Untuk lebih menunjang adanya
perkembangan kognitif dan kreativitas anak dalam belajar menulis dibutuhkan penanaman
kedisipinan agar anak akan terbiasa mulai sejak dini. Menurut Poerwada Disiplin
diri merupakan latihan batin dan watak dengan maksud supaya segala perhatiannya
selalu menaati tata tertib di sekolah atau militer atau dalam suatu kepartaian
(Pedagogia Jurnal Pendidikan, UMSIDA 2013 : 37)
DAFTAR
PUSTAKA
Jurnal
Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. 2013. ”Pedagogia”. Pusat
Pengembangan Ilmu Pendidikan FKIP UMSIDA: Sidoarjo
Segala Syaiful. 2003. “Konsep dan
Makna Pembelajaran”. Alfabeta: Bandung
Munandar,Utami.
2004. “Pengembangan Emosi dan Kreativitas”. Jakarta : Rineka Cipta
Pembelajaran-anak. 2008. “Belajar
Menulis” Dalam pembelajaran-anak.blogspot.com
Diakses11 – 01 – 2014 18.30
Husnakun.
2007. “pengembangan nilai integritas bangsa”. Dalam Husnakun.wordpress.com Diakses11
– 01 – 2014 18.30
Tidak ada komentar:
Posting Komentar