Selasa, 14 Januari 2014

ARAHAN ANAK UNTUK BELAJAR MENULIS SEBAGAI INTEGRITAS KREATIFITAS ANAK BANGSA



1.        HAKIKAT ANAK
Anak adalah anugerah yang menyejukkan mata dan ini adalah nikmat dari Allah SWT. Setiap orang tua pasti menginginkan anak yang sholeh, sholehah taat pada Allah swt dan orang tua. Dibalik keceriaan sang anak, sesungguhnya dia membutuhkan perhatian dan bimbingan orang tua. Begitu pula orang tua, segala yang terbaik ingin diberikan sebagai tanda cinta bagi sang buah hati, karena si buah hati bagai tak ternilai harganya.

2.        HAKIKAT BELAJAR
Belajar menurut pndangan para ahli, antara lain :
a.      Robert M. Gagne
Belajar adalah suatu proses yang kompleks, sejalan dengan itu menurut Robert M. Gagne (1970) belajar merupakan kegiatan yang kompleks, dan hasil belajar berupa kapabilitas, timbulnya kapabilitas disebabkan:
1)   Stimulasi yang berasal dari lingkungan
2)   Proses kognitif yang dilakukan oleh pelajar
Setelah belajar orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap, dan nilai. Dengan demikian dapat ditegaskan, belajar seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi lingkungn, melewati pengelolahan informasi, dan menjadi kepabilitas baru. Belajar terjadi bila ada hasilnya yang dapat diperlihatkan, anak-anak demikian juga orang dewasa dapat mengingat kembali kata-kata yang telah ernah didengar atau dipelajarinya. (Sagala, 2003: 17)
b.        Piaget
Jean Piaget seorang psikolog Swiss (1896-1980) mempelajari berpikir pada anak-anak, sebab ia yakin dengan cara ini akna dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan epistemologi, seperti “bagaimanakah kita memperoleh pengetahuan: dan “bagaimana kita tahu apa yang kita ketahui”. Jean Piaget berpendapat ada dua proses yang terjadi dalam perkembangan dan pertumbuhan kognitif anak, yaitu:
1)   Process assimilation, dalam proses ini menyesuaikan atau mencocokkan informasi yang baru itu dengan apa yang telah ia ketahui dengan mengubahnya bila perlu
2)   Process accomodation, anak menyusun dan membangun kembali atau mengubah apa yang telah diketahui sebelumnya sehingga informasi yang baru itu dapat disesuaikan dengan lebih baik (Sagala, 2003: 24)
3.        HAKIKAT MENULIS
Menulis merupakan suatu pemikiran yang di dituangkan lewat bentuk tulisan. Menulis sangatlah penting untuk pengembangan pemekiran seseorang. Melalui menulis seseorang dapat menciptakan karya-karya dalam bentuk tulisan.
Ada 2 hal penting yang harus diperhatikan orangtua, sebagaimana dipaparkan Lara Fridani, S.Psi, M.Psych (Edu&Dev), dosen Pendidikan Guru PAUD, Universitas Negeri Jakarta.
1.        LIHAT KESIAPAN ANAK     
Untuk mengetahui si prasekolah sudah siap atau belum diajarkan menulis, orangtua perlu memerhatikan 3 hal berikut ini:
a)    Aspek Fisik-Motorik
Keterampilan menulis termasuk dalam keterampilan motorik halus yang melibatkan otot kecil khususnya tangan dan jari-jari. Di usia prasekolah, anak dapat mengontrol gerakan jari-jemarinya dengan lebih baik, sehingga mereka bisa lebih terampil dalam menggunakan material/peralatan untuk menggenggam dan memanipulasi alat.           
Umumnya, di usia 3 tahun 6 bulan, motorik halus anak siap untuk dilatih memegang alat tulis (pensil atau bolpen), sehingga diharapkan pada usia 6-7 tahun ke atas, kemampuan tersebut—memegang alat tulis dengan benar— dapat dikuasai anak.
Untuk itu, sebelum anak mencapai usia prasekolah atau sebelum dilatih menulis, orangtua harus melatih keterampilan motorik halus anak dengan berbagai kegiatan seperti membentuk plastisin (lilin lunak), bermain pasir, bermain pasel, memakai sepatu, dan lain-lain
b)   Aspek Emosi
Kegiatan menulis membutuhkan kesabaran, ketekunan dan konsentrasi. Anak usia prasekolah memiliki rentang waktu konsentrasi dan atensi yang masih terbatas. Mengajak anak melakukan kegiatan menulis, katakanlah selama 5 menit, perlu usaha yang cukup besar. Kesabaran dan support orangtua mendampingi anak dalam menulis akan berpengaruh besar terhadap emosi dan konsentrasi anak pula. Orangtua diharapkan tidak banyak mengkritik produk tulisan anak, melainkan memberikan reward. Anak akan semakin terampil dalam menulis.
c)    Aspek Kognitif
Keterampilan motorik halus, sebagaimana keterampilan aspek yang lain, sangat terkait dengan kemampuan kognitif anak. Menurut teori Piaget, perkembangan kognitif anak usia prasekolah berada pada tahap pra-operasional, dimana dalam tahap ini sebenarnya kemampuan berpikir anak masih di bawah tahap konkret. Jadi, dalam mengajari anak, minimal kita memberikan banyak contoh yang konkret, bermakna, dan familiar bagi anak. Di tahap ini anak mulai memahami bahwa benda-benda yang biasa dilihatnya, dapat diwakili oleh tulisan.
2.        TAHAPAN KEMAMPUAN MENULIS          
Selain mengetahui kesiapan anak untuk belajar menulis, orangtua juga perlu memerhatikan tahapan perkembangan kemampuan menulis pada anak. Dengan begitu, orangtua dapat memberikan stimulus yang tepat, sesuai dengan kemampuan anak. Cara menstimulasinya adalah dengan menggunakan variasi metode dan media yang menarik agar anak senang berlatih menulis. Ada 6 tahapan kemampuan anak sebagai "penulis muda" yaitu;
a)    Inexperienced Writer
Tahapan menggunakan gambar, tulisan scribble (coretan/ sketsa) ataupun bentuk lain seperti huruf, dan sebagainya. Contoh, tulisan anak yang bentuknya baru mirip huruf.
b)   Prewiter
Tahapan mencontoh huruf, kata ataupun kalimat pendek. Anak juga mulai menggunakan huruf-huruf yang dikenalnya dalam menamakan suatu benda, dan menulis kata-kata yang pernah dipelajari (pernah terekam dalam memori). Contoh, tulisan satu kata.
c)    Developing Writer
Anak paham bahwa kata-kata yang mereka ucapkan dapat dituliskan pula; mengerti bahwa kata-kata biasanya mewakili bunyi-bunyi tertentu. Juga mulai muncul huruf-huruf lain yang menunjukkan pemahamannya tentang hubungan bunyi maupun simbol, dan mulai menulis kata demi kata namun spasi antara kata biasanya belum muncul. Di tahap ini, anak dapat membaca tulisannya sendiri. Contoh, tulisan dua tiga kata tanpa spasi.
d)   Beginning Writer
Anak dapat menulis kata demi kata, menulis dengan bimbingan orang dewasa, mulai menggunakan spasi untuk memisahkan satu kata dengan kata lain, serta mulai menunjukkan pemahaman tulisan di buku, majalah dan lainnya. Contoh, tulisan 3 kata dengan spasi.
e)    Experienced Writer
Di tahap ini, tumbuh kepercayaan diri anak. Dia mulai bisa menulis mandiri, menggunakan rancangan/pola/gambaran dari lingkungan sekitarnya sehingga menjadi kata yang bermakna, memahami penggunaan spasi, dapat menuliskan ide sederhana tapi cukup komplet, dan bisa mengeja kata-kata yang cukup sulit.
f)    Exceptional Writer
Anak menunjukkan antusiasme yang tinggi. Dia lebih senang untuk menulis mandiri, menulis kalimat yang panjang, sudah terlatih menggunakan spasi antarkata, dan lain-lain. Contoh, tulisan anak SD awal, dimana tekanan tulisan sudah cukup mantap, dan bisa membuat kalimat. Umumnya, kemampuan menulis anak TK (prasekolah) yang mendapat stimulasi baik, berada pada tahapan 3-4. Ketika anak usia TK sudah mencapai kemampuan seperti experience (tahap 5) ataupun exceptional writer (tahap 6), ini adalah bonus. Sebagai pendidik, orangtua tidak bisa mengharapkan semua anak usia prasekolah mencapai keterampilan seperti ini. Dengan stimulasi yang baik dan berkesinambungan, diharapkan pada usia SD, anak semakin terampil dan antusias dalam menulis mandiri.  [1]

4.        HAKIKAT INTEGRITAS
Integritas disini berarti menunaikan amanah dan tanggung jawab kita hingga tuntas selesai. Dengan menunaikannya berarti kita telah bersikap jujur pada hati kita sendiri, dimana misi yang telah kita terima dan akui di hadapan para konstituen kita kemudian kita tunaikan dengan segenap hati, segenap pikiran, segenap tenaga kita. Keutuhan semua ini, yakni pengakuan mulut, perasaan, pikiran, dan tenaga kita, pada hakikatnya itulah yang disebut integritas. Integritas adalah komitmen, janji yang ditepati, untuk menunaikan tanggung jawab hingga selesai sampai tuntas, tidak pura-pura lupa pada tugas atau ingkar pada tanggung jawab. Dalam proses penerapannya, untuk membangun integritas diperlukan pengetahuan akan dan komitmen kuat pada nilai-nilai etika. Keduanya tidak terpisahkan sebagai prasyarat utama bagi kemampuan kita mengemban amanah. Hal ini didukung oleh adanya kompetensi teknis (keandalan/reliability) dan kompetensi etis (trustworthiness) yang dimiliki oleh pribadi.[2]

5.        HAKIKAT KREATIFITAS
Walaupun ada pengakuan ilmiah terhadap pentingnya kreativitas, namun hingga kini hanya sedikit sekali penelitian yang telah dilakukan. Hal itu disebabkan adanya kesulitan metodologi dan karena adanya keyakinan bahwa kreativitas adalah suatu faktor bawaan individual sehingga hanya sedikit yang dapat dilakukan untuk mengendalikannya.
Utami Munandar (1995 : 25) kreativitas adalah suatu kemampuan umum untuk menciptakan suatu yang baru, sebagai kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah, atau sebagai kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan baru antara unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya.

6.        HUBUNGAN ANAK DENGAN BELAJAR MENULIS
Ketiak anak itu bisa menulis. Anak akan dapat membuat sebuah karya tulis yang menarik buat seseorang yang membacanya. Anak akan terbiasa untuk menuliskan beberapa hal yang dianggapnya menarik atau penting untuk dituangkan. Menulis merupakan salah satu kebutuhab perkembangan seorang anak
Hubungan anak dengan belajar menulis, yaitu :
a)    Melatih anak sejak dini untuk kreatif dalam menulis
b)   Mengajarkan anak untuk mengukkapkan perasaannya
c)    Menjadi sahabat dimana tempat anak untuk curhat dengan begitu orang tua dapat mengecek keseharian anaknya
d)   Mendidik anak untuk berpikir secara kritis

7.        PENGARUH BELAJAR MENULIS TERHADAP INTEGRITAS KREATIFITAS ANAK BANGSA
White (1987) menjelaskan pentingnya keterampilan menulis dalam kehidupan para pembelajar, yaitu untuk (1) kepentingan masa depabn (pekerjaan), (2) kepentingan ujian yang menuntut penjelasan/paparan secara tertulis, (3) kepentingan pembelajar dalam mengikuti dan memperhatikan pelajaran, (4) kebutuhan penulisan karya tulis sebagai salah satu teknik ujian akhir.
Hal yang sama diungkapkan oleh Akhadiah, dkk (1989) bahwa beberapa keuntungan yang dapat dipetik dari pelaksanaan kegiatan menulis, yaitu (1) dapat mengenali kemampuan dan potensi kita, (2) dapat mengembangka berbagai gagasan, (3) dapat menyerap, mencari, serta menguasai informasi sehubungan dengan topik tulisan, (4) dapat mengorganisasikan ide-ide secara sistematik serta mengungkapkannya secara tersurat, (5) dapat meninjau serta menilai gagasan sendiri secara objektif, (6) lebih mudah memecahkan masalah, (7) mendorong lebih belajar secara aktif, dan (8) membiasakan berpikir serta berbahasa secara tertib.

8.        ARAHAN ANAK AGAR BELAJAR MENULIS
Hal yang penting diperhatikan dalam memberikan pengajaran kepada anak tentang menulis. Dalam rangka pembelajaran tersebut perlu adanya cara-cara agar anak belajar menulis dengan menarik     :
a)    Gunakan alat tulis yang tepat
Awalnya, berikan pensil dengan bentuk dan ukuran yang lebih mudah dipegang dan dimanipulasi oleh anak, misalnya bentuk seperti segitiga (tidak bulat) dengan "garis tengah" agak besar dan tidak licin.
b)   Tidak memaksa anak
Lakukan dengan cara-cara yang menyenangkan dan nyaman buat anak. Pemaksaan hanya membuat anak tertekan dan merasa jenuh. Sebetulnya, bila usia anak memang sudah siap dan secara motorik halus sudah matang, dengan stimulasi yang wajar saja, keterampilan menulisnya dapat berkembang.
c)    Tidak memberi target
Misal, hari ini si kecil harus bisa menulis huruf hidup, atau dalam sehari anak harus bisa menulis satu kata, dan lainnya. Biarkan anak menulis apa yang ingin ditulisnya, orangtua hanya membimbing agar anak dapat menulis dengan baik.
d)   Catat setiap perkembangan dan kemajuan anak
Dokumentasikan setiap tulisan yang dibuat anak. Untuk itu, cantumkan tanggal, bulan, dan tahun anak menulis di kertas atau bukunya. Sehingga orangtua bisa melihat ada-tidaknya perubahan yang lebih baik, untuk kemudian orangtua mengajarkan tulisan lainnya. Di usia akhir TK B, diharapkan anak dapat menulis huruf dan angka meskipun tulisannya belum bagus tapi dapat dibaca.
e)    Berlatih dengan buku latihan menulis
Di pasaran banyak dijual buku latihan menulis untuk anak TK. Orangtua boleh saja membelikannya untuk melatih anak menulis. Yang perlu diperhatikan, jangan menuntut anak untuk melakukannya dengan sempurna. Umpama, anak harus menulis huruf "a" dengan mengikuti titik-titik berbentuk huruf "a", tapi hasilnya agak melenceng. Hal ini wajar saja mengingat keterampilan motorik halusnya yang belum sempurna.
f)    Lihat usaha anak bukan hasilnya
Orangtua/guru hendaknya melihat proses di balik hasil tulisan anak. Anak yang tulisannya sudah bagus maupun yang belum, tetap harus diberikan penghargaan yang sama. Bukankah anak yang tulisannya “jelek” pun sudah berusaha untuk bisa menghasilkan
Untuk lebih menunjang adanya perkembangan kognitif dan kreativitas anak dalam belajar menulis dibutuhkan penanaman kedisipinan agar anak akan terbiasa mulai sejak dini. Menurut Poerwada Disiplin diri merupakan latihan batin dan watak dengan maksud supaya segala perhatiannya selalu menaati tata tertib di sekolah atau militer atau dalam suatu kepartaian (Pedagogia Jurnal Pendidikan, UMSIDA 2013 : 37)


DAFTAR PUSTAKA

Jurnal Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. 2013. ”Pedagogia”. Pusat Pengembangan Ilmu Pendidikan FKIP UMSIDA: Sidoarjo
Segala Syaiful. 2003. “Konsep dan Makna Pembelajaran”. Alfabeta: Bandung
Munandar,Utami. 2004. “Pengembangan Emosi dan Kreativitas”. Jakarta : Rineka Cipta
Pembelajaran-anak. 2008. “Belajar Menulis” Dalam pembelajaran-anak.blogspot.com Diakses11 – 01 – 2014 18.30
Husnakun. 2007. “pengembangan nilai integritas bangsa”. Dalam Husnakun.wordpress.com Diakses11 – 01 – 2014 18.30


[1]     Pembelajaran-anak. 2008. “Belajar Menulis” Dalam pembelajaran-anak.blogspot.com Diakses11 – 01 – 2014 18.30

[2] Husnakun. 2007. “pengembangan nilai integritas bangsa”. Dalam Husnakun.wordpress.com Diakses11 – 01 – 2014 18.30

Tidak ada komentar:

Posting Komentar